Category Archives: Pemilu 2009

Lebih Cepat, Apakah lebih Baik?

Semua orang ingin lebih cepat. Mungkin lebih baik, mungkin pula bisa menjadi buruk. Walaupun dipastikan tak ada yang ingin menjadi buruk. Semuanya ingin menjadi lebih baik.

Namun tak jarang lebih cepat bisa berakibat buruk. Pepatah Jawa mengatakan „alon alon asal kelakon“ atau orang tua yang selalu mengingatkan kita untuk hari-hari dan tidak terburu-buru. Mengerjakan ujian tanpa teliti dan terburu-buru mengakibatkan kita cepat selesai namun keliru mengartikan pertanyaan. Dalam mengunyah makanan pun dokter mengajurkan untuk mengambil tempo agar enzim yang ada didalam mulut kita berkerja secara efektif. Terburu-buru, grasa-grusu adalah sifat yang dianggap tidak sopan. Baca lebih lanjut

Tidak Memilih Tidak Sama Dengan Golput

Ada satu artikel pendek menarik dari blog Cafe Salemba, tentang pemilu dan golput. Silahkan membaca dengan mengklik tautan berikut.

http://cafesalemba.blogspot.com/2009/04/non-voting-does-not-equal-golput.html

Menginginkan Pemilu Ulang? Apakah Realistis?

Wacana untuk mengulang pemilihan umum dilontarkan beberapa tokoh partai yang perolehan suaranya tak bisa menyentuh 1 persen atau batas minimal parliamentary threshold. Banyaklah alasan yang dijaikan sebab. Aspirasi sekian ratus ribu pemilih yang masih mencontreng partai mereka hingga ketidak becusan KPU mengurusi daftar pemilih tetap.

Menurut tokoh partai-partai ini, keteledoran tersebut disengaja untuk mengembosi partai mereka. Salah satu tokoh Partai Bulan Bintang (apa Bintang Bulan yah? PBB lah…), mengatakan bahwa sekitar 250 orang calon pemilih tak terdaftar di daeah Sape, Kabupaten Bima, Nusatenggara Barat. Kabupaten Bima (dan juga Nusatenggara Barat) memang menjadi basis kuat PBB. Namun apakah seluruh calon pemilih tersebut memang akan memilih PBB?

Dari beberapa keluh kesah teman yang menjadi Golput karena terpaksa, alias tak terdaftar, sang Ketua RT sendiri bahkan ikut tak terdaftar, banyak terjadi di daerah-daerah yang didomisili mayoritas keturunan Tionghoa/Cina). Iseng saya bertanya, kalau mereka bisa mencontreng pada tgl 9 April lalu partai mana yang akan dipilih? Umumnya mereka menjawab Demokrat.

Mungkin agak bias oleh hasil sementara yang diumumkan di televisi-televisi, namun bisa jadi pula benar. Ini berarti tak selamanya suara yang tak terdaftar tersebut adalah suara-suara yang akan masuk partai-partai di luar Demokrat atau Golkar, jika mengasumsikan dua partai ini adalah partai pemerintah yang sengaja mengatur KPU. Lagi pula perolehan Golkar pun (sebagai partai pemerintah – JK sebagai Wakil Presiden), cukup berjarak jauh dari Demokrat. Baca lebih lanjut

Yang Tersisa Dari Pemilu 9 April

Membaca hasil sementara pemilihan umum legislatif yang baru dilakukan 9 April lalu mungkin membuat beberapa orang kecewa. Namun mungkin pula ada yang senang dengan hasil tersebut.

Partai Demokrat secara mengejutkan menyodok dengan perolehan lebih dari 20% (hasil sementara KPU atau beberapa quick count). Yang menyedihkan justru apa yang diperoleh Golkar dan PDI-P. Perolehan PDI-P hanya berkisar 15%, turun dibanding pemilu 2004, sebesar 18,5%. Begitu pula perolehan suara Golkar. Di TPS dekat dengan kediaman saya saja, TPS No. 16 Bogor, Jawa Barat, Golkar hanya memperoleh suara 2 dari sekitar 252 suara yang sah mencontreng pada pemilu 9 April. Baca lebih lanjut

Situs-situs Baru Terkait Pemilu 2009

Sebuah situ baru yang memuat berbagai berita mengenai pemilihan umum 2009 siap untuk diluncurkan. Menurut salah satu pengelola situs, Enda Nasution, versi beta situs tersebut memang sudah dapat diakses oleh publik, meskupun belum secara resmi diluncurkan. Alamat situs tersebut adalah http://politikana.com/

Dalam situs politikana.com pengakses dapat melakukan registrasi dan login, sehingga dapat memposting berita dan opini, mempublikasikan photo, memberikan komentar, dan sebagainya. Namun untuk sekedar membaca pun dapat dilakukan. Situs tersebut, didalam iklannya mengatakan, sebagai sebuah tempat dimana pengakses dapat ikut bicara dan berbuat tentang “politik” dalam arti yang luas.

Satu hal yang menarik dari situs ini adalah beita-berita dan photo yang diposting cukup lucu, mengundang tawa, dan lain dari beita dan photo yang ada pada media mainstream.

Sebelumnya, Forum Politisi sudah lebih dahulu meluncurkan sebuah anak situs baru, yang khusus membahas mengenai pemilihan umum 2009. Di situ ini, para pengakses pun dapat memberikan komentar dan mengirimkan berita. Situs tersebut dapat diakses pada alamat: http://pemilu2009.forum-politisi.org/

(artikel ini dimuat pula dalam situs Kedai Kebebasan)

Syahrir Ternyata Seorang Liberal

Sedang melihat situs baru mengenai pemilu 2009, http://www.politikana.com,  eh…ketemu sebuah kalimat yang berbunyi begini:

“Jangan bicara tentang kebebasan dan kemerdekaan bila hatimu sendiri tidak bebas dan tidak pula merdeka. Kemerdekaan dan kebebasan individu itu merupakan hak asasi manusia. Bisakah engkau menghargai kebebasan dan kemerdekaan manusia lain, sedang hati nuranimu sendiri terbelenggu?”

Kalimat ini menurut penulisnya dikutip dari salah satu surat yang ditulis Syahrir ketika berada dalam pengasingan di Pulau Banda pada 1936-1942.

Buat saya cukup mengejutkan, eh…tokoh yang semula diusung sebagai seorang sosialis, ternyata sangat dan seorang LIBERAL.

Bisa melihat tulisan tersebut ditautan ini:

http://politikana.com/baca/2009/03/13/dari-syahrir-untuk-kita.html

PKS Siap Koalisi dengan Partai Manapun

Beberapa waktu yang lalu Freedom Institute dan Fredrich Naumann Stiftung mengadakan pelatihan wartawan ke-10, di Ciloto, Jawa Barat, yang megambil tema mengenai ‘Pemilihan Umum 2009, Partai Politik, dan Konsolidasi Demokrasi.”

Masih teringat, dalam training tersebut salah satu topik yang didiskusikan adalah megenai platform, program, dan azas partai politik yang ada di Indonesia. Perkembangan yang muncul dalam percaturan politik di Indonesia, dengan berbagai kemunculan partai-partai baru, banyak diantara mereka yang tak memiliki platform, ideology, dan program partai yang jelas. Asas yang dijunjung adalah sama-sama Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan memposisikan sebagai partai yang berada di tengah-tengah. Baca lebih lanjut