Tag Archives: BBM

Harga BBM Turun Lagi: Politik atau Bukan?

Politisi Indonesia memang paling pandai berkelit, mencari berbagai alasan mmperkuat argumen. “Komoditi” yang paling laku dipakai adalah BBM, karena konon menyangkut hajat hidup orang banyak.

Karena itu tatkala harga BBM melambung tinggi (menurut Iwan Fals akan membuat ….”susu tak terbeli”), ramai kritik dilontarkan saat pemerintah tak tertahankan harus menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi yang membebani APBN. Tak memperhatikan nasib rakyat katanya. Rakyat haruslah tetap mendapatkan harga BBM murah untuk dibakar habis.

Namun toh saat pemerintah menurunkan harga BBM, karena harga minyak dunia yang turun, kritik yang kembali dilontarkan adalah “komoditi politik.” Mungkin karena tiga kali penurunana yang dilakukan menjelang pemilihan umum. Baca lebih lanjut

Iklan

Hikmah Kenaikan BBM bagi PDI-P

Ditengah maraknya protes kenaikan harga BBM, Megawati Sukarnoputri ternyata menangguk keuntungan menambah popularitas. Popularitas Susilo Bambang Yudhoyono sendiri anjlok. Hal ini terungkap dari hasil survei terbaru yang dikeluarkan oleh lembaga survey Indo Barometer.

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 1.200 responden yang tersebar di 33 propinsi untuk pertama kalinya popularitas SBY kalah dari tokoh lain. Ia menduduki peringkat kedua dibawah Mega, capres dari PDI-P.  Survei Indo Barometer ini berlangsung setelah pemerintah menaikkan harga BBM pada awal Mei lalu. Angka perolehan Mega mencapai 30,4%, sedangkan SBY merosot ke angka 20,7%.

Namun pemilihan umum dan pemilihan presiden masih cukup lama, masih tersisa sekitar 10 – 12 bulan. Kenaikan harga BBM memang memberikan pengaruh besar terhadap popularitas pemerintah. Tak hanya SBY. Sementara Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, jika capres dibatasi pada 10 nama dan dilaksanakan saat ini dengan perolehan seperti itu, Mega praktis naik jadi Presiden RI.

Sebagian isi tulisan ini dikutip dari situs  http://www.inilah.com/

“Bangsa Ini Telah Lelah Dengan Kekerasan”

Judul diatas saya temukan saat pagi tadi membaca opini di Majalah Mingguan Tempo edisi 30 Juni, yang mengutip ucapan almarhum Munir. Opini itu sendiri membahas soal kematian Munir dan terlibat atau tidaknya badan intelejen Indonesia.

Kita tentu masih ingat demonstrasi mahasiswa terakhir di muka gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menolak kenaikan BBM, yang berlanjut di muka kampus Atmaja dan berujung pada kekerasan dan perusakan fasilitas umum dan pribadi. Demonstrasi yang konon untuk membela kepentingan rakyat kecil tersebut, menolak kenaikan BBM, justru membuat rakyat kecil ketakutan, terlambat pulang kerja karena macet (menghabiskan BBM), atau bahkan kehilangan harta karena mobil yang dirusak atau dibakar, hanya karena memiliki plat berwarna Merah.

Peristiwa itu seolah mengikuti kekerasan lain sebelumnya, tatkala massa pendukung kebebasan beragama yang sedang memperingati Hari Kelahiran Pancasila di Tugu Monumen Nasional (monas) kocar-kacir diamuk oleh massa pendukung front pembela Islam. Perbedaan pendapat dan keyakinan kembali harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Seolah memiliki otoritas tunggal terhadap kebenaran. Seolah menjadi Tuhan itu sendiri, menentukan salah dan benar, berdosa atau tidak, yang merasa perlu melakukan pembelaan terhadap Tuhan yang sebenarnya mereka akui sendiri sebagai maha kuasa, maha tahu, maha pengasih, maha pengampun, maha penyayang, dan maha menghukum (yang bersalah). Mungkin bagi kelompok ini Tuhan perlu diwakilkan. Baca lebih lanjut