Tag Archives: Berita

Tua Muda Sama Saja

Dikotomi tua versus muda selalu muncul dalam diskursus perpolitikan menjelang pemilihan umum. Seolah kaum yang muda ingin merangsek, maju menggantikan yang tua. Tak hanya menjelang pemilihan umum 2009, perdebatan tua muda ini pun telah terjadi menjelang pemilu 1989 dan pemilu 2004.

Namun tak ada perubahan yang berarti. Toh yang tua tetap mendominasi dan yang muda tetap nyaman berada dibawah ketiak yang tua. Tak ada kaum muda yang muncul menjadi tokoh alternatif, baik dari sisi gagasan maupun perilaku politik. Tetap sama.

Kini perdebatan tersebut kembali muncul. Mungkin tak puas dengan apa yang telah dan tengah terjadi. Reformasi dan cita-cita kemakmuran yang diinginkan belum terjadi. Bisa saja…. Baca lebih lanjut

Kenapa Tidak Pakai Trem Saja: Alternatif Selain Busway

Berita penolakan jalur busway melalui Pondok Indah oleh warga yang tinggal dikawasan ini semula tak membuat saya tertarik. Namun satu spanduk yang melintang dekat kantor saya, bertulis “Mereka Naik Mercy, kami butuh Busway” membuat saya tersenyum.

Saya teringat seorang teman aktivis semasa kuliah dahulu, saat melakukan demo di depan rektorat UI, membaca puisi yang konon menurutnya “revolusioner.” Kira-kita begini penggalannya, “Mereka naik mercy kita naik bus, mereka makan keju dan roti kita makan singkong.” Menurutnya isi puisi tersebut sarat dengan “pertentangan kelas.” Baca lebih lanjut

Ingin Cepat Pakai Gas, Tabung Tak Siap?

Mungkin ada benarnya jika diduga instruksi wakil presiden Jusuf Kalla untuk mempercepat konversi minyak tanah ke gas, yang tadinya direncanakan berjalan selama lima tahun menjadi tiga tahun, agak bernuansa politik. Jika dihitung maju, maka tiga tahun tersebut akan jatuh pada saat-saat krusial politik di bumi Nusantara ini, 2009-2010. Pemilihan umum 2009 masuk diantara periode tersebut. Dan menjadi rahasia umum pula ia sepertinya berencana maju menjadi calon RI-1, tak mau puas dengan sekedar RI-2. Namun lagi-lagi orang Betawi bilang, namanya juga mungkin……. Baca lebih lanjut

Minal Aizin Wal Faizin, 1 Syawal 1428 Hijriah

Segala pikiran, uneg-uneg, komentar, balasan komentar, atau opini yang tertuang selama setahun (Hijriah), mungkin sempat menyinggung, membuat marah, kesal, dan tak senang dihati para sobat yang mengunjungi blog ini.

Karenanya, izinkan saya menghaturkan kata maaf di bulan yang suci ini dan hari fitriah tahun ini.

Minal Aizin Wal Faizin,

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah

Selamat Jalan Pak Ong…!!

Semalam, saat bertemu dengan seorang kawan, ia menyampaikan berita yang cukup mengejutkan, “Pak Ong meninggal!”

Saya memastikan, “Pak Onghokham?” yang dijawabnya iya.

Berita pun kemudian beredar melalui telp dan SMS, tentunya diantara para murid yang pernah diajarnya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Baca lebih lanjut

Romantisme Sejarah atau Demi Kemajuan?

Beberapa hari lalu saya mengklik TEMPO Interaktif, mencari berita tentang sengketa Indivision, ESPN, Star Sport, dan Astro sebenarnya. Masih penasaran dengan hilangnya siaran liga Inggris dari monitor TV di rumah, dan ketemulah berita yang menarik ini, tentang bahasa daerah BIMA, tempat saya lahir di Nusa Tenggara Barat. Judulnya “Diusulkan Pemakaian Kembali Aksara Bima.”

 

Tokoh masyarakat Bima, Siti Maryam Rachmad bermaksud menghidupkan kembali penggunaan aksara Bima dalam bahasa tradisional Bima, Nggahi Mbojo. Ia bermaksud mengusulkan rencana itu kepada pemerintah. Siti adalah putri Sultan Salahudin Bima, bekas Sultan Bima. Siti mengatakan rencana itu telah dibahasnya dengan ahli bahasa Bugis asal Belanda, Dr Nurden, yang menemuinya di Mataram pada 1990. Sang ahli, menurut Siti, menemukan aksara tersebut pada sebuah buku karangan peneliti Belanda bernama Solenger.Aksara Bima menghilang dari penggunaan sehari-hari masyarakat setelah dikenalnya huruf Arab pada zaman penyebaran Islam di Bima. Bentuknya seperti aksara Makassar, tapi tidak sama. Jumlahnya lebih dari 20 huruf. Namun, menurut Siti, masih ada empat huruf pengganti X, Y, dan Z yang belum ditemukan.Yang mengusik pikiran saya adalah untuk apa lagi menghidupkan fosil yang sudah mati? Berguna bagi kepentingan masyarakat umum atau hanya memenuhi kepuasan pribadi saja? Apakah nanti seluruh bacaan yang terbit di Bima ditulis dalam aksara Bima? Apakah waktu belajar anak-anak disekolah akan berkurang lagi dengan mempelajari bahasa dan aksara Bima? Apakah akan berguna bagi kemajuan sang anak dimasa depan. Baca lebih lanjut

Monopoli Siaran Liga Inggris?

Olahraga yang namanya sepak bola selalu menjadi berita menarik. Tak pernah berhenti menjadi berita, mengundang kontroversi, dan lahan bisnis yang subur. Bayangkan pasar yang dapat diperoleh dari setengah jumlah penduduk Indonesia yang mungkin kini sudah mencapai sekitar 220 juta orang.

Pikiran bisnis inilah yang mungkin membuat Astro berani membeli hak siar liga Inggris untuk Indonesia dari ESPN dan Starsport. Pasalnya tak ada TV publik lokal, semula TV Trans 7 menyiarkannya, yang mampu membayar hak siar tersebut. Dan akibatnya sudah dipastikan penikmat liga Inggris yang tak berlangganan Astro tidak dapat menonton tayangan pada musim kompetisi 2007-2008.

Untuk saluran TV berlangganan lain yang semula menyiarkannya melalui ESPN dan Starsport belum mendapat kepastian dapat menyiarkan atau tidak. Baca lebih lanjut