Tag Archives: Birokrasi

Pajak dan Warganegara

Bulan Maret lalu mungkin menjadi bulan yang tidak menyenangkan bagi sebagian besar diantara kita. Sunset policy, pengampunan bagi wajib pajak yang baru mendaftar berakhir, sudah harus berakhir dan daftar kekayaan pun harus disetor kepada pemerintah, lewat dinas Pajak pada 31 Maret 2009 lalu.

Pada akhir 2007, jumlah wajib pajak terdaftar baru 5,3 juta orang. Namun, hanya dalam tempo 14 bulan, yakni pada pertengahan Februari 2009, jumlah wajib pajak terdaftar melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 12,1 juta orang. Pendapatan negara pun meningkat. Pada 2007, penerimaan negara dari sektor pajak baru mencapai Rp491 triliun. Setahun kemudian, penerimaan negara dari pajak naik signifikan sebesar 32% menjadi Rp658,7 triliun. Rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto juga naik, dari 12,4% pada 2007 menjadi 14,1% pada 2008. Baca lebih lanjut

Masih Perlukan Melakukan Reformasi Birokrasi?

Korupsi ibarat rayap, yang secara tekun dan terencana, menggerogoti sendi-sendi penunjang laju pertumbuhan dan perkembangan suatu negara, yaitu birokrasi. Upaya yang dilakukan oleh pemeintah, melalui Komisi Pemberantasan Korupsi, paling tidak mulai menunjukkan hasil. Secara perlahan kasus-kasus dan temuan baru diungkapkan, walau masih menyimpan banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Ada yang mengatakan bahwa maraknya kasus korupsi yang bermunculan menandakan semakin parahnya korupsi di negeri ini. Namun kita pun bisa mengambil sisi positif dari fenomena tersebut. Mungkin tak separah dahulu, alias sama saja, hanya saja dahulu, di masa Soeharto, tak banyak kasus yang terungkap. Baca lebih lanjut

Jalan Rusak…

Kalau mau kurus jangan bingung cari-cari jamu atau obat mujarab yang bisa menurunkan berat badan, atau kalau ingin berpartisipasi ikut program pengurangan kepadatan penduduk, datang saja ke Jakarta. Dijamin kurus dan mungkin pula ko’it, karena asik bergoyang di jalan rusak.

Geol kiri-kanan, bikin perut tegang dan membentuk pinggang menjadi padat. Kadang kita juga bisa belajar salto, lompat dari sepeda motor, yang acap pula membuat kita meluncur ke kolong bis yang ikut bergoyang, tergerus…. (Aih……pemerintah tak usah susah payah bikin program Keluarga Berencana, biarkan saja jalan bopeng, berlubang, dijamin satu hari ada satu orang yang kena celaka). Baca lebih lanjut

Lomba Video Amatir

new-fnf-logo.jpg 

Kompetisi Video Amatir 2008

Friedrich Naumann Stiftung – Indonesia 

Latar Belakang:

Perjuangan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan dan mencapai kesejahteraan adalah potret yang sehari-hari kita jumpai. Pedagang-pedagang kecil yang menghuni lahan-lahan kosong diberbagai pelosok kota adalah wajah perjuangan untuk mencapai tingkat kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik. Kampung-kampung kumuh yang banyak bertebaran diperkotaan adalah wajah perjuangan ekonomi yang lain.  

Namun acapkali mereka harus tersingkir dari lahan usaha yang mereka huni sekian lama. Puluhan tahun menghuni lahan pemukiman atau usaha tak menjadi jaminan memperoleh hak kepemilikan atau pengakuan yang legal atas lahan tersebut, walaupun selama waktu tersebut mereka membayar pajak dan iuran atas lahan yang mereka pakai.  Kepastian hukum tak mereka dapatkan. Bayangkan jika status legal kepemilikan atas lahan hunian atau usaha tersebut didapat, mereka dapat memakainya untuk memperoleh kredit usaha dari perbankan, misalnya. Paling tidak ada sebuah kepastian terhadap usaha yang mereka jalankan.  

Friedrich Naumann Stiftung Indonesia, dengan latarbelakang ini, mencoba membuat kompetisi pembuatan video amatir yang berdurasi pendek, yang merekam berbagai persoalan, terkait dengan hak kepemilikan (property right – secara fisik) dan kebebasan ekonomi ini.   Baca lebih lanjut

Ingin Cepat Pakai Gas, Tabung Tak Siap?

Mungkin ada benarnya jika diduga instruksi wakil presiden Jusuf Kalla untuk mempercepat konversi minyak tanah ke gas, yang tadinya direncanakan berjalan selama lima tahun menjadi tiga tahun, agak bernuansa politik. Jika dihitung maju, maka tiga tahun tersebut akan jatuh pada saat-saat krusial politik di bumi Nusantara ini, 2009-2010. Pemilihan umum 2009 masuk diantara periode tersebut. Dan menjadi rahasia umum pula ia sepertinya berencana maju menjadi calon RI-1, tak mau puas dengan sekedar RI-2. Namun lagi-lagi orang Betawi bilang, namanya juga mungkin……. Baca lebih lanjut

Pilkada DKI Jakarta…, Siapa Ikut?

Siapa ikut Pilkada Jakarta? Para pendukung kedua pasangan calon tentunya menjawab, “kita semua! Warga Jakarta!”

Tapi tak tentu tuh. Contohnya saya, digolputkan oleh situasi dan kondisi. Kartu Tanda Penduduk saya adalah milik DKI (hingga tahun 2012 malah), tapi saya tinggal di Sentul, Jawa Barat. Dan saya belum pindah “warganegara” Kabupaten Bogor. Saya tak mendapatkan kartu pilih untuk Pilkada tanggal 8 Agustus nanti. Tentunya satu suara hilang….  🙂

Ah…siapa perduli, toh satu suara yang tak memilih ini cuma titik diantara tinta sebelanga (jadi tak nampak). Lucunya sewaktu ada pilkada kepala desa kabupaten Bogor yang lalu, saya sempat dibagikan surat/kartu untuk memilih. Padahal saya tak tahu kapan didaftar dan berdasarkan apa. Lagi-lagi saya tidak memilih. Bukan karena aliran politik, bukan karena boikot dan tetek bengek lainnya. Sederhana saja, hanya karena malas. Apalah artinya suara yang satu ini.

Hak pilih terakhir yang saya pergunakan mungkin terjadi saat pemilihan umum  1999. Saat itu saya sedang meliput di wilayah Timor Timur (yang kini menjadi negara Timor Lorosae). Itupun karena kebetulan kartu pilih “terbawa” hingga Tim-Tim, dan untuk memudahkan wawancara dan masuk dalam area TPS.

Tentunya saya punya pembenaran untuk tidak ikut. Pertama, tidak kenal dengan calon. Kedua, tak ada janji kampanye yang meyakinkan. Ketiga, apa ada perubahan yah?

Tut-tut-tut….siapa hendak turut?

Tak turut juga, siapa takut?

Indonesia Menang 1-0 atas Korea Selatan

Demam bola terus berlanjut, meski Indonesia kalah 0-1 melawan Arab Saudi. Semua sontak pratiotik, mendukung “merah putih.”  Bahkan rela mengantri tiket untuk pertandingan Indonesi vs. Korea Selatan sejak hari Senin lalu, 16 Juli 2007. Padahal pertandingan baru akan dilangsungkan hari ini.

Soal kalah dari Arab Saudi tak jadi soal. Wasit Uni Emirat Arab pun menjadi kambing hitam bersama-sama dengan AFC. Padahal kalau dipikir-pikir seharusnya PSSI sudah harus memprotesnya sebelum bola disepak…..Eh….ternyata mereka tetap harus menunggu presiden SBY dahulu yang harus melontarkan kritik.

Walhasil, wakil presiden Yusuf Kalla kembali “harus” datang menyambangi para pemain Indonesia yang sedang berlatih, menyiapkan diri untuk menghadapi Korea Selatan, minus Zaenal Arif yang dicoret dari daftar pemain karena tidak disiplin (salut untuk Ivan Kolev yang tegas).

Mungkin wakil presiden Yusuf  kalla ingin mengulang tuah pertemuannya dengan para pemain sebelum melawan Bahrain. Terbukti Indonesia menang 2-1. Namun apa pertemuan SBY dengan para pemain kurang “bertuah?”

Yang jelas presiden dan wakil presiden berjanji akan “nonton bareng” di Stadion Utama Senayan (yang akan memastikan tidak akan ada mati listrik)  😀  Bonus untuk para pemain pun sudah disiapkan jika menang melawan Korea Selatan.

Entah didorong oleh kayakinan dan analisa tajamnya sebagai seorang “saudagar” atau hanya sekedar “nasionalisme” yang menggelora, wakil presiden Yusuf Kalla memberikan ramalan Indonesia akan menang 1 – 0 atas Korea Selatan. (harian olahraga Top Skor, 18 Juli 2007, hlm 8) 

Semua pendukung tim Indonesia pasti berharap ramalan ini jitu dan Indonesia lolos ke 8 besar. Jika ini terjadi, kita mungkin akan mendapatkan popularitas SBY-Kalla yang “terdongkrak” kembali dalam survey Lembaga Survey Indonesia (LSI) mendatang.

Siapa bilang tidak bisa berpolitik dalam olah raga (sepak bola) ?