Tag Archives: DPR

Asian Beach Games dan RUU Pornografi

Asian Beach Games 2008, yang kini tengah berlangsung di Bali, cukup membuka mata kita, bahwa kita adalah masyarakat kepulauan, memiliki potensi laut yang luar biasa, termasuk olah raga kelautan. Tak kurang Menteri Pemuda dan Olah Raga ikut membenarkannya. Sudah lazim bagi kita, perlu ada gebrakan yang heboh, baru kita menyadarinya.

Taklah salah jika pesta olah raga yang baru pertama kali diadakan ini, konon akan menyaingi Winter Olimpic, diadakan di Bali. Masyarakat Bali adalah yang paling banyak menentang wacana RUU Pornografi, yang batal disahkan 28 oktober ini. Mereka menganggap RUU tersebut banyak bertentangan dengan budaya yang selama ini mereka miliki. Dalam pembukaan acara ABG 2008, lagi-lagi suguhan budaya Bali yang mendapat applaus luar biasa dari penonton yang hadir. Baca lebih lanjut

“Bangsa Ini Telah Lelah Dengan Kekerasan”

Judul diatas saya temukan saat pagi tadi membaca opini di Majalah Mingguan Tempo edisi 30 Juni, yang mengutip ucapan almarhum Munir. Opini itu sendiri membahas soal kematian Munir dan terlibat atau tidaknya badan intelejen Indonesia.

Kita tentu masih ingat demonstrasi mahasiswa terakhir di muka gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menolak kenaikan BBM, yang berlanjut di muka kampus Atmaja dan berujung pada kekerasan dan perusakan fasilitas umum dan pribadi. Demonstrasi yang konon untuk membela kepentingan rakyat kecil tersebut, menolak kenaikan BBM, justru membuat rakyat kecil ketakutan, terlambat pulang kerja karena macet (menghabiskan BBM), atau bahkan kehilangan harta karena mobil yang dirusak atau dibakar, hanya karena memiliki plat berwarna Merah.

Peristiwa itu seolah mengikuti kekerasan lain sebelumnya, tatkala massa pendukung kebebasan beragama yang sedang memperingati Hari Kelahiran Pancasila di Tugu Monumen Nasional (monas) kocar-kacir diamuk oleh massa pendukung front pembela Islam. Perbedaan pendapat dan keyakinan kembali harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Seolah memiliki otoritas tunggal terhadap kebenaran. Seolah menjadi Tuhan itu sendiri, menentukan salah dan benar, berdosa atau tidak, yang merasa perlu melakukan pembelaan terhadap Tuhan yang sebenarnya mereka akui sendiri sebagai maha kuasa, maha tahu, maha pengasih, maha pengampun, maha penyayang, dan maha menghukum (yang bersalah). Mungkin bagi kelompok ini Tuhan perlu diwakilkan. Baca lebih lanjut