Tag Archives: Ekonomi

Sekali Lagi Tentang Pajak

Tolong simak isi artikel yang mengutip pernyataan Dirjen Pajak Darmin Nasution ini.

http://bisnis.vivanews.com/news/read/52167-_ri_jangan_jadi_negara_surga_bebas_pajak_

Terus terang saya tidak paham dengan logika yang ada di kepala Bapak Darmin. Jika memilhat dari kacamata investasi, jelas investor akan lebih memilih negara yang memberi kemudahan pajak. Sudah terbukti, Hong Kong, Makau, atau China, yang justru adalah negara-negara yang disebutkan oleh beliau sebagai negara yang memberikan tax heaven. Dengan adanya investasi tersebut terbukti pertumbuah ekonomi mereka “cukup” baik. Artikel tersebut pun mengutip dua negara lain yang memberi tax rendah, sekitar 15 persen, seperti Korea Utara dan Jepang. Lagi-lagi negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup baik.

Lucunya Bapak Darmin mengatakan keberadaan negara-negara tersebut justru merugikan Indonesia….heeeeeeh…

Ya jelas dong. Kita rugi karena jarang ada investor yang mau datang dengan pajak tinggi. Piye to…?

Jika tidak ingin dirugikan, ya turunkan pajaknya…

Memang susah jika logika yang ada dikepala Bapak Darmin, sebagai pejabat negara, adalah tentang bagaimana mendapat PEMASUKAN YANG SEBESAR-BESARNYA BAGI NEGARA.

Lantas bukankah tugas dan fungsi negara adalah melayani warganya. Jika investasi banyak bermasukan. Industri atau usaha baru dibuka, lapangan pekerjaan tersedia, bukankah itu menjadi salah satu bukti pelayanan yang diberikan oleh negara.

Jika negara menargetkan pemasukan besar dari pajak, akan dipakai untuk apa pemasukan yang besar tersebut?

Bukankah disaat mengahadapi krisis seperti sekarang ini, kita harus pandai-pandai menjaga investor yang ada di negara Indonesia. Lebih dari itu, bukankah pajak yang tinggi akan menjadi beban bagi masyarakat. Mereka akan terkena beban pajak pendapatan, pajak kekayaan, dan ongkos produksi (pajak pertambahan nilai, pajak invetasi, dsbb) dari produsen terhadap barang-barang yang kita beli (menjadi lebih mahal).

Tak taulah…mungkin temans memiliki masukan yang lebih baik?

Iklan

Akankah Kita Memasuki “Resesi Besar”

Banyak diantara kita yang akan berkomentar sinis terhadap International Monetary Fund (IMF) atau World Bank (WB), jika disinggung kedua nama lembaga tersebut. Namun kini, kesinisan tersebut bisa menjadi boomerang, jikalau kita mengabaikan peringatan yang dilontarkan oleh kedua lembaga tersebut.

Selasa lalu, 10 Maret 2009, seperti yang dikutip dari kantor berita AFP, Dominique Strauss-Kahn, kepala International Monetary Fund, dalam wawancaranya dengan televise Perancis, France 24, mengatakan bahwa ekonomi global akan terpuruk pada tahun ini (baca 2009), karena dunia tengah memasuki sebuah “Resesi Besar.” Ia mengatakan bahwa perekonomian semakin memburuk sejak bulan Januari, saat IMF masih memperkirakan pertumbuhan GDP dunia dapat berkisar pada angka 0.5 persen. Namun perkembangan berkata lain, dan berita yang diterima semakin buruk, sehingga ia beranggapan dunia kini tengah memasuki Resesi Besar. Baca lebih lanjut

Kebebasan Ekonomi

Kebebasan setiap individu dalam mengambil keputusan, yang berkaitan dengan harga yang ada didalam pasar, serta dikombinasikan dengan pengakuan terhadap hak kepemilikan pribadi adalah elemen-elemen kunci dari sistem yang dikenal dengan nama “pasar bebas.”

 

Demokrasi dan ekonomi pasar juga berkaitan erat dengan bagaimana memajukan nilai-nilai kebebasan dan tanggungjawab individu. Ide yang terandung didalam gagasan ini sangatlah sederhana: tidak ada tatanan ekonomi yang sedemikian manusiawi, bersifat ekonomis, dinamis, fleksibel, dan terbukti mampu menghadapi krisis dimana individu memiliki kebebasan memilih apa yang harus diproduksinya, kapan, dimana, dan bagaimana, serta kemudian memutuskan secara bebas bagaimana barang yang ia produksi didistribusikan. Tokoh pemikir liberal Jerman, Walter Eucken, menyebutnya ‘ekonomi pasar’ atau ‘tatanan kompetitif.’ Baca lebih lanjut

Ludwig Erhard

Ludwig Erhard adalah kanselir Jerman pada tahun 1963 – 1966 yang acapkali dihubungkan dengan upaya pemulihan perekonomian Jerman Barat setelah perang dunia.

 

Ia dilahirkan pada 4 Februari1897, di Fürth, sebuah kota di bagian Selatan Bavaria, Jerman. Ia meninggal pada 5 Mei 1977, di Bonn, Jerman.

 

Erhard sempat terjun berperang dalam perang dunia I, pulang dengan membawa luka yang cukup parah, yang  membuatnya memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di bidang ekonomi dan sosiologi, yang ditekuninya hingga meraih doctor pada tahun 1925. Dari tahun 1928 hingga tahun 1942 ia bekerja pada sebuah lembaga yang melakukan survey pasar di Nuremberg, dimana ia kemudian membangun sebuah institusi yang danai oleh industri swasta.

 

Secara intelektual ia memikirkan tentang berbagai konsekuensi yang harus dihadapi oleh Jerman setelah kekalahan perang dunia II. Sejak tahun 1945 ia banyak dipengaruhi oleh Amerika, bekerja sebagai Menteri Ekonomi di Bavaria, dan kemudian di Frankfurt, terutama dalam melakukan reformasi mata uang.

  Baca lebih lanjut

Another Kedai Kopi….

Ini cerita yang lain dari kedai kopi yang lain. Lebih bernunsa lokal dan menyediakan kopi-kopi lokal, seperti Gayo, Toraja, Bali, Jawa, Flores, hingga kopi Irian. Baru kali ini saya tau ada kopi yang berasal dari Flores dan Irian. Setahu saya tak ada perkebunan kopi disana. Atau mungkin saya yang tolol dan tak mengetahuinya, atau mungkin pula dari petani-petani kopi kecil.

Yang terpenting adalah rasa segar , pahit, sedikit masam, tatkala cairan hitam tersebut melewati lidah dan tenggorokan, serta harum segar khas tercium di hidung (untung saat itu tak lagi pilek). Lebih-lebih saat itu saya mencoba kopi Gayo arabica. Rasa yang tak kalah dengan kopi yang ada di beberapa gerai kopi import, yang menyediakan cappucino, moccacino, prapocino, mocca latte, ekpresso, atau yang lainnya. terus terang lidah saya lebih akrab dengan kopi lokal. Baca lebih lanjut

Jalan Rusak…

Kalau mau kurus jangan bingung cari-cari jamu atau obat mujarab yang bisa menurunkan berat badan, atau kalau ingin berpartisipasi ikut program pengurangan kepadatan penduduk, datang saja ke Jakarta. Dijamin kurus dan mungkin pula ko’it, karena asik bergoyang di jalan rusak.

Geol kiri-kanan, bikin perut tegang dan membentuk pinggang menjadi padat. Kadang kita juga bisa belajar salto, lompat dari sepeda motor, yang acap pula membuat kita meluncur ke kolong bis yang ikut bergoyang, tergerus…. (Aih……pemerintah tak usah susah payah bikin program Keluarga Berencana, biarkan saja jalan bopeng, berlubang, dijamin satu hari ada satu orang yang kena celaka). Baca lebih lanjut

Lomba Video Amatir

new-fnf-logo.jpg 

Kompetisi Video Amatir 2008

Friedrich Naumann Stiftung – Indonesia 

Latar Belakang:

Perjuangan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan dan mencapai kesejahteraan adalah potret yang sehari-hari kita jumpai. Pedagang-pedagang kecil yang menghuni lahan-lahan kosong diberbagai pelosok kota adalah wajah perjuangan untuk mencapai tingkat kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik. Kampung-kampung kumuh yang banyak bertebaran diperkotaan adalah wajah perjuangan ekonomi yang lain.  

Namun acapkali mereka harus tersingkir dari lahan usaha yang mereka huni sekian lama. Puluhan tahun menghuni lahan pemukiman atau usaha tak menjadi jaminan memperoleh hak kepemilikan atau pengakuan yang legal atas lahan tersebut, walaupun selama waktu tersebut mereka membayar pajak dan iuran atas lahan yang mereka pakai.  Kepastian hukum tak mereka dapatkan. Bayangkan jika status legal kepemilikan atas lahan hunian atau usaha tersebut didapat, mereka dapat memakainya untuk memperoleh kredit usaha dari perbankan, misalnya. Paling tidak ada sebuah kepastian terhadap usaha yang mereka jalankan.  

Friedrich Naumann Stiftung Indonesia, dengan latarbelakang ini, mencoba membuat kompetisi pembuatan video amatir yang berdurasi pendek, yang merekam berbagai persoalan, terkait dengan hak kepemilikan (property right – secara fisik) dan kebebasan ekonomi ini.   Baca lebih lanjut