Tag Archives: Jakarta

Mahalnya Harga Buku

Buku adalah sumber ilmu, kata nasihat orang-orang tua dahulu, dan sebagai orang yang percaya dengan petuah tersebut sudah barang tentu saya ingin pula menularkan “buku sebagai sumber ilmu” tersebut kepada anak saya, yang kini duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Saya masih ingat, semasa saya kecil, hadiah yang selalu menyenangkan yang diberikan oleh orang tua saya adalah buku. Dengan menyisihkan uang sekitar Rp 5,- hingga Rp 10,- dari uang saku setiap minggu, untuk membayar sewa dua buah buku, yang dipinjam pulang ke rumah selama dua minggu, di Perpustakaan Umum DKI Jakarta samping gedung Walikota Jakarta Pusat. Gedung perpustakaan ini masih ada hingga kini, walaupun hampir masih sama seperti dahulu dan tak pernah menjadi lebih besar gedungnya. Baca lebih lanjut

Anak Sekolah dan Kemacetan

Soal kemacetan adalah soal klasik yang selalu muncul di Jakarta, dan belum mampu diatasi oleh berbagai “rezim” yang silih berganti memimpin Jakarta, ibukota Negara Republik Indonesia. Berbagai macam cara ditempuh sudah, dahulu ada yang dinamai Rapid Mass Trasportation, yang intinya mengatur jalur bis kota, dikenalkan pula bis sekolah dan bis universitas, yang tak banyak menolong, karena juga ikut mengangkut pekerja kantoran. Kutipan harga yang diperuntukkan bagi siswa sekolah maupun mahasiswa lebih murah dibanding harga tiket bis yang lain. Jika mengangkut pegawai kantoran atau pekerja yang lain, paling tidak ada kelebihan yang dapat dikantongi oleh supir dan kenek bis.

Tol dalam kota dan tol lingkar jakarta pun di bangun dengan semangat mengatasi kemacetan. Namun toh kenyataannya jalan tol, pada jam-jam tertentu justru lebih padat dibanding jalan umum biasa yang ada di kiri kanannya. Jalur bus way yang konon menjadi sebuah alternatif juga tak banyak membantu. Apalagi soal subway atau monorail. Mungkin masih harus menunggu 10-20 tahun lagi. Baca lebih lanjut

Kekerasan…….

Orang tua, nenek atau kakek kita acap bercerita bahwa nenek moyang kita adalah bangsa yang peramah dan senang bergotong royong. Itu pula yang kita dapati didalam pelajaran-pelajaran sekolah, tentang keramah-tamahan nenek moyang kita, sebagai bangsa dari Timur. Bahkan ada kawan-kawan semasa kuliah yang meplesetkannya, memberi kesimpulan bahwa karena keramah-tamahan inilah yang membuat bangsa kita terjajah oleh Belanda.

Mereka yang semula hanya berniat berdagang kemudian diberi ijin untuk membuka loji, sebagai kantor agen perdagangan, dan lambat laun memperluas daerah kekuasaannya, memungut pajak dan menentukan birokrasi pemerintahan. Toh nenek moyang kita tetap menyambutnya dengan ramah tamah, bahkan menganggap mereka sebagai saudara. Sama halnya saat kita menyambut “saudara tua” dari arah matahari terbit, yang dianggap membawa kemakmuran dan kenaikan martabat sebagai bangsa Asia. Baca lebih lanjut

Trotoar Kok Dipakai Parkir?

Upaya Pemda DKI Jakarta menertibkan parkir-parkir liar mungkin patut diacungkan jempol. Pengerekan, pemasangan rantai besi dan denda yang dikenakan kepada para pengemudi yang memarkirkan mobilnya “secara liar” merupakan pelajaran yang seharusnya tak mengenal kompromi.

Bukan rahasia lagi kalau banyak lahan parkir liar yang menjadi “jatah” hasil kongkalingkong aparat birokrasi dan preman. Paling tidak dengan adanya “gerakan’ baru (tapi niatnya sudah lama) ini, ada sekian milliar pendapatan asli daerah yang terselamatkan. Baca lebih lanjut

Jalan Publik Sempit!!

Setiap hari di Jakarta kita pasti mengeluh soal jalan yang macet dan rusak. Sudah tak terhitung berapa goresan yang ada di mobil, motor, atau bahkan jiwa yang melayang karena ruang sempit atau kerusakan jalan umum yang kita lalui. Alternatifnya, tak lain dengan menempuh jalan tol dalam kota atau tol lingkar Jakarta.

Itupun jika tidak macet pula. Tapi paling tidak kerusakan jalan tak separah yang ada di jalan-jalan umum di kiri kanan tol tersebut. Baca lebih lanjut