Tag Archives: Parlemen

Menginginkan Pemilu Ulang? Apakah Realistis?

Wacana untuk mengulang pemilihan umum dilontarkan beberapa tokoh partai yang perolehan suaranya tak bisa menyentuh 1 persen atau batas minimal parliamentary threshold. Banyaklah alasan yang dijaikan sebab. Aspirasi sekian ratus ribu pemilih yang masih mencontreng partai mereka hingga ketidak becusan KPU mengurusi daftar pemilih tetap.

Menurut tokoh partai-partai ini, keteledoran tersebut disengaja untuk mengembosi partai mereka. Salah satu tokoh Partai Bulan Bintang (apa Bintang Bulan yah? PBB lah…), mengatakan bahwa sekitar 250 orang calon pemilih tak terdaftar di daeah Sape, Kabupaten Bima, Nusatenggara Barat. Kabupaten Bima (dan juga Nusatenggara Barat) memang menjadi basis kuat PBB. Namun apakah seluruh calon pemilih tersebut memang akan memilih PBB?

Dari beberapa keluh kesah teman yang menjadi Golput karena terpaksa, alias tak terdaftar, sang Ketua RT sendiri bahkan ikut tak terdaftar, banyak terjadi di daerah-daerah yang didomisili mayoritas keturunan Tionghoa/Cina). Iseng saya bertanya, kalau mereka bisa mencontreng pada tgl 9 April lalu partai mana yang akan dipilih? Umumnya mereka menjawab Demokrat.

Mungkin agak bias oleh hasil sementara yang diumumkan di televisi-televisi, namun bisa jadi pula benar. Ini berarti tak selamanya suara yang tak terdaftar tersebut adalah suara-suara yang akan masuk partai-partai di luar Demokrat atau Golkar, jika mengasumsikan dua partai ini adalah partai pemerintah yang sengaja mengatur KPU. Lagi pula perolehan Golkar pun (sebagai partai pemerintah – JK sebagai Wakil Presiden), cukup berjarak jauh dari Demokrat. Baca lebih lanjut

Iklan

Hari Kartini

Ternyata hari ini Hari Kartini. Tepatnya 21 April 2008, dan memang biasanya setiap tanggal ini diperingati sebagai hari kelahiran R.A. Kartini, tokoh asal Jepara yang dianggap melakukan pembaharuan terhadap nasib perempuan.

Saya baru ingat kembali akan peringatan tersebut saat melihat serombongan siswa sekolah dasar, yang ada di dekat kantor, berpawai keliling, semarak dengan tepukan alat musik rebana, dan pakaian adat daerah-daerah yang ada di Indonesia yang mereka kenakan.

Saya benar-benar lupa, walaupun tadi pagi sempat mendengar cuplikan berita yang dibacakan oleh seorang penyiar di televisi, tentang Hari Kartini. Lagi pula anak saya yang duduk di bangku sekolah dasar kok hari ini hanya mengenakan pakaian biasa, seperti layaknya setiap Senin pagi, pakaian olahraga. Tak ada yang menunjukkan adanya perayaan Hari Kartini. Atau karena anak saya bersekolah di dalam cakupan wilayah Jawa Barat. Dengan kontens lokal yang dijadikan rujukan untuk menunjukkan kearifan lokal, mungkin saja (mudah-mudahan tidak) di Jawa Barat tokoh perempuan pejuang yang diperingati bukan R.A. Kartini melainkan Dewi Sartika.  🙂 Baca lebih lanjut