Tag Archives: Pemilu 2009

Kegilaan Pemilu dan Kegilaan Koalisi

Paska pemilihan umum 2009 kita banyak berbicara tentang potensi besar mantan caleg yang mungkin akan terkena stress atau bahkan rawan terkena penyakit kejiwaan. Tensi politik yang tinggi, mimpi yang sudah megawang dan uang yang telah banyak ditebarkan, diduga menjadi beberapa penyebab yang akan menggerogoti jiwa mantan-mantan caleg yang lemah.

Tak ada data yang jelas. Rumah sakit yang konon sudah menyediakan barak khusus bagi mereka pun tak memberikan data statistik yang akurat. Beberapa berita hanya mewartakan ada diantara mereka yang mandi kembang di tepi sumur maupun sumur, menghilangkan ancaman gangguan kejiwaan.

Kini sebaliknya, kita dipusingkan selama dua minggu terakhir dengan berbagai berita soal koalisi capres dan cawapres, yang mungkin bisa membuat kita gila.

Tak kunjung usai, tak kunjung putus, dan tak “kawin-kawin.” Berita tentang koalisi selalu menjadi headline dan breaking news.

Yang lebih gila ada kocokan komposisi yang mereka olah. Tiba-tiba JK merasa lebih pantas menjadi calon presiden daripada harus bersanding lagi dengan SBY sebagai wapres. Ia pun kemudian memilih Wiranto sebagai pasangan. Aneh……karena Wiranto adalah capres yang ditelikungnya pada pemilihan 2004. Golkar pun mengklaim sebagai partai yang pro dengan perubahan dan termasuk pro pada pasar. Terutama JK yang seorang saudagar tentunya amat dekat dengan dunia usaha, yang oleh Wiranto disebut sebagai kapitalis dan pro-Barat. Kok bisa berpasangan.

Megawati pun masih mengocok pasangan. Mencari yang pas. Ia tentunya tak mau hanya menjadi cawapres dari Prabowo. Lain soal jika ia mengajukan Puan sebagai wakil presiden dari PDIP untuk berpasangan dengan Prabowo sebagai Capres. Namun apakah ia mau, dan apakah kader-kader lama PDIP akan menerima pasangan tersebut. Puan yang baru “berkibar” akhir-akhir ini saja.

SBY pun tampaknya “ragu” untuk memilih pasangan yang pas. Berbagai nama bermunculan, mulai dari Hidayat Nur Wahid, Hatta Radjasa, Boediono, Sri Mulyani, Akbar Tadjung, dll. Mungkin SBY sudah memiliki nama, tapi mungkin pula ia masih bingung memilih. Hanya saja “kenekatan” Amien Rais memajukan nama Hatta Radja justru mendorong keretakan kubu PAN. Beberapa kader PAN di parlemen dan DPP yang semula mencap kubu SBY sebagai kubu pro pasar kapitalis barat yang akan berhadapan dengan kubu nasionalis kerakyatan, dimana PAN dianggap lebih pas berada, tentunya kecewa dengan merapatnya Amien ke kubu SBY.

Namun itulah politik, kata sebagian orang.

AKan tetapi politik memiliki etika. Politik memiliki konsistensi visi misi dan ideologi yang harus dijunjung, dan menjadi “jualan” partai kepada konstituen mereka. Akan menjadi lucu dan “gila” jika tiba-tiba, karena berbicara tentang berapa kursi kekuasaan yang akan diperoleh, kemudian menghianati apa yang telah disepakati dan diucapkan, serta menjadi sejarah dari perjalanan partai politik tersebut.

Kita mungkin bisa bertambah gila, segila beberapa partai yang lolos verifikasi, tetapi tidak mencantumkan satupun caleg dalam list pemilihan umum kemarin.

Uang subsidi pemilu sudah mereka dapat.

Kini menjadi gila pula dengan format koalisi, yang menhalalkan partai yang tak lolos threshold untuk bergabung dalam koalisi. Toh mereka tak akan memperoleh kursi di parlemen.

Ah…jangan-jangan, seperti orang Medan mengatakan “Uang yang mengatur dunia ini.”

Tidak Memilih Tidak Sama Dengan Golput

Ada satu artikel pendek menarik dari blog Cafe Salemba, tentang pemilu dan golput. Silahkan membaca dengan mengklik tautan berikut.

http://cafesalemba.blogspot.com/2009/04/non-voting-does-not-equal-golput.html

Menginginkan Pemilu Ulang? Apakah Realistis?

Wacana untuk mengulang pemilihan umum dilontarkan beberapa tokoh partai yang perolehan suaranya tak bisa menyentuh 1 persen atau batas minimal parliamentary threshold. Banyaklah alasan yang dijaikan sebab. Aspirasi sekian ratus ribu pemilih yang masih mencontreng partai mereka hingga ketidak becusan KPU mengurusi daftar pemilih tetap.

Menurut tokoh partai-partai ini, keteledoran tersebut disengaja untuk mengembosi partai mereka. Salah satu tokoh Partai Bulan Bintang (apa Bintang Bulan yah? PBB lah…), mengatakan bahwa sekitar 250 orang calon pemilih tak terdaftar di daeah Sape, Kabupaten Bima, Nusatenggara Barat. Kabupaten Bima (dan juga Nusatenggara Barat) memang menjadi basis kuat PBB. Namun apakah seluruh calon pemilih tersebut memang akan memilih PBB?

Dari beberapa keluh kesah teman yang menjadi Golput karena terpaksa, alias tak terdaftar, sang Ketua RT sendiri bahkan ikut tak terdaftar, banyak terjadi di daerah-daerah yang didomisili mayoritas keturunan Tionghoa/Cina). Iseng saya bertanya, kalau mereka bisa mencontreng pada tgl 9 April lalu partai mana yang akan dipilih? Umumnya mereka menjawab Demokrat.

Mungkin agak bias oleh hasil sementara yang diumumkan di televisi-televisi, namun bisa jadi pula benar. Ini berarti tak selamanya suara yang tak terdaftar tersebut adalah suara-suara yang akan masuk partai-partai di luar Demokrat atau Golkar, jika mengasumsikan dua partai ini adalah partai pemerintah yang sengaja mengatur KPU. Lagi pula perolehan Golkar pun (sebagai partai pemerintah – JK sebagai Wakil Presiden), cukup berjarak jauh dari Demokrat. Baca lebih lanjut

Yang Tersisa Dari Pemilu 9 April

Membaca hasil sementara pemilihan umum legislatif yang baru dilakukan 9 April lalu mungkin membuat beberapa orang kecewa. Namun mungkin pula ada yang senang dengan hasil tersebut.

Partai Demokrat secara mengejutkan menyodok dengan perolehan lebih dari 20% (hasil sementara KPU atau beberapa quick count). Yang menyedihkan justru apa yang diperoleh Golkar dan PDI-P. Perolehan PDI-P hanya berkisar 15%, turun dibanding pemilu 2004, sebesar 18,5%. Begitu pula perolehan suara Golkar. Di TPS dekat dengan kediaman saya saja, TPS No. 16 Bogor, Jawa Barat, Golkar hanya memperoleh suara 2 dari sekitar 252 suara yang sah mencontreng pada pemilu 9 April. Baca lebih lanjut

Situs-situs Baru Terkait Pemilu 2009

Sebuah situ baru yang memuat berbagai berita mengenai pemilihan umum 2009 siap untuk diluncurkan. Menurut salah satu pengelola situs, Enda Nasution, versi beta situs tersebut memang sudah dapat diakses oleh publik, meskupun belum secara resmi diluncurkan. Alamat situs tersebut adalah http://politikana.com/

Dalam situs politikana.com pengakses dapat melakukan registrasi dan login, sehingga dapat memposting berita dan opini, mempublikasikan photo, memberikan komentar, dan sebagainya. Namun untuk sekedar membaca pun dapat dilakukan. Situs tersebut, didalam iklannya mengatakan, sebagai sebuah tempat dimana pengakses dapat ikut bicara dan berbuat tentang “politik” dalam arti yang luas.

Satu hal yang menarik dari situs ini adalah beita-berita dan photo yang diposting cukup lucu, mengundang tawa, dan lain dari beita dan photo yang ada pada media mainstream.

Sebelumnya, Forum Politisi sudah lebih dahulu meluncurkan sebuah anak situs baru, yang khusus membahas mengenai pemilihan umum 2009. Di situ ini, para pengakses pun dapat memberikan komentar dan mengirimkan berita. Situs tersebut dapat diakses pada alamat: http://pemilu2009.forum-politisi.org/

(artikel ini dimuat pula dalam situs Kedai Kebebasan)

Syahrir Ternyata Seorang Liberal

Sedang melihat situs baru mengenai pemilu 2009, http://www.politikana.com,  eh…ketemu sebuah kalimat yang berbunyi begini:

“Jangan bicara tentang kebebasan dan kemerdekaan bila hatimu sendiri tidak bebas dan tidak pula merdeka. Kemerdekaan dan kebebasan individu itu merupakan hak asasi manusia. Bisakah engkau menghargai kebebasan dan kemerdekaan manusia lain, sedang hati nuranimu sendiri terbelenggu?”

Kalimat ini menurut penulisnya dikutip dari salah satu surat yang ditulis Syahrir ketika berada dalam pengasingan di Pulau Banda pada 1936-1942.

Buat saya cukup mengejutkan, eh…tokoh yang semula diusung sebagai seorang sosialis, ternyata sangat dan seorang LIBERAL.

Bisa melihat tulisan tersebut ditautan ini:

http://politikana.com/baca/2009/03/13/dari-syahrir-untuk-kita.html

Peran Maksimal Negara

The more the state “plans” the more difficult planning becomes for the individual.” ujar Friedrich von Hayek.

Mungkin akan menjadi fenomena menarik, untuk melihat bagaimana pemerintah Indonesia akan mengantisipasi krisis yang sedang terjadi.

Terkait dengan pemilihan umum, beberapa calon presiden atau calon presiden bahkan sudah mengeluarkan janji, yang pada intinya berakhir dengan nasionalisme/nasionalisasi dan proteksionisme.

Artikel yang ditulis oleh Amartya Sen dalam The New York Review of Books, mungkin bisa menjadi bacaan yang menarik.