Tag Archives: Pendidikan

Hari Kartini

Ternyata hari ini Hari Kartini. Tepatnya 21 April 2008, dan memang biasanya setiap tanggal ini diperingati sebagai hari kelahiran R.A. Kartini, tokoh asal Jepara yang dianggap melakukan pembaharuan terhadap nasib perempuan.

Saya baru ingat kembali akan peringatan tersebut saat melihat serombongan siswa sekolah dasar, yang ada di dekat kantor, berpawai keliling, semarak dengan tepukan alat musik rebana, dan pakaian adat daerah-daerah yang ada di Indonesia yang mereka kenakan.

Saya benar-benar lupa, walaupun tadi pagi sempat mendengar cuplikan berita yang dibacakan oleh seorang penyiar di televisi, tentang Hari Kartini. Lagi pula anak saya yang duduk di bangku sekolah dasar kok hari ini hanya mengenakan pakaian biasa, seperti layaknya setiap Senin pagi, pakaian olahraga. Tak ada yang menunjukkan adanya perayaan Hari Kartini. Atau karena anak saya bersekolah di dalam cakupan wilayah Jawa Barat. Dengan kontens lokal yang dijadikan rujukan untuk menunjukkan kearifan lokal, mungkin saja (mudah-mudahan tidak) di Jawa Barat tokoh perempuan pejuang yang diperingati bukan R.A. Kartini melainkan Dewi Sartika.  🙂 Baca lebih lanjut

Pornografi: Kok Harus Repot-Repot?

Sepertinya isu pornografi kembali naik daun. Paling tidak dari rencana, yang konon dilontarkan oleh Bapak Wapres, di bulan April nanti pemerintah akan mengambil tindakan tegas tehadap situs-situs porno. Mudah-mudahan bukan karena isu photo “berani” dari artis yang sedang “naik daun” Sandra Dewi atau yang  baru-baru saja merebak, photo seorang model, Aline Tumbuan.

Soal asli atau tidak biarlah menjadi urusan Roy Suryo, namun memang banyak blog yang memuat berita tersebut, entah dengan photo yang dibuat buram, photo setengahnya saja, atau hanya sekedar link ke situs-situs yang memasang gambar tersebut.

Maka terkesanlah sangat ramai di dunia internet. Padahal mungkin hanya link belaka atau berita saja. Tidak ada porno-pornonya sama sekali. Hanya saja klik untuk artikel-artikel tersebut memang ribuan, yang disertai puluah komentar. Terkadang dengan tag keren; sex, porno, Sandra Dewi, Aline, dll. Belum lagi ditambah dengan berita pencekalan Dewi Persik di Tanggerang yang dengan embel-embel berpenampilan porno. Baca lebih lanjut

Lomba Video Amatir

new-fnf-logo.jpg 

Kompetisi Video Amatir 2008

Friedrich Naumann Stiftung – Indonesia 

Latar Belakang:

Perjuangan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan dan mencapai kesejahteraan adalah potret yang sehari-hari kita jumpai. Pedagang-pedagang kecil yang menghuni lahan-lahan kosong diberbagai pelosok kota adalah wajah perjuangan untuk mencapai tingkat kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik. Kampung-kampung kumuh yang banyak bertebaran diperkotaan adalah wajah perjuangan ekonomi yang lain.  

Namun acapkali mereka harus tersingkir dari lahan usaha yang mereka huni sekian lama. Puluhan tahun menghuni lahan pemukiman atau usaha tak menjadi jaminan memperoleh hak kepemilikan atau pengakuan yang legal atas lahan tersebut, walaupun selama waktu tersebut mereka membayar pajak dan iuran atas lahan yang mereka pakai.  Kepastian hukum tak mereka dapatkan. Bayangkan jika status legal kepemilikan atas lahan hunian atau usaha tersebut didapat, mereka dapat memakainya untuk memperoleh kredit usaha dari perbankan, misalnya. Paling tidak ada sebuah kepastian terhadap usaha yang mereka jalankan.  

Friedrich Naumann Stiftung Indonesia, dengan latarbelakang ini, mencoba membuat kompetisi pembuatan video amatir yang berdurasi pendek, yang merekam berbagai persoalan, terkait dengan hak kepemilikan (property right – secara fisik) dan kebebasan ekonomi ini.   Baca lebih lanjut

Merokok Lebih Sehat Dari Fasisme!

smoking.jpgSurvey Forum Warga Jakarta dan Indonesian Tobacco Control Alliance, yang dilakukan sejak Agustus hingga September 2007 menunjukkan lebih dari 50 persen mal dan pusat perbelanjaan di Jakarta telah melanggar peraturan Kawasan Dilarang Merokok. 59 persen pelaku pelanggaran mengetahui bahwa mal dan pusat perbelanjaan merupakan kawasan dilarang merokok. Namun mereka tetap merokok 🙂 karena 55 persen dari mereka tahu bahkan tidak ada aparat yang akan melarang mereka.

Lantas Koordinator FAKTA (Forum Warga Kota) Jakarta, Azas Tigor Nainggolan (Kompas 14 Februari 2008) mengatakan, bahwa hal tersebut menunjukkan ketidakseriusan dalam menerapkan Peraturan daerah Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Sebagai perokok, walaupun bukan perokok berat, hanya bisa mengucapkan “Alhamdullillah” masih ada orang yang membangkang terhadap peraturan yang tidak “fair” tersebut. Baca lebih lanjut

Ayah Adalah Kepala Keluarga…

book.jpgAyah adalah kepala keluarga, yang dapat pula diartikan laki-laki lah yang menjadi kepala keluarga.

“Ajaran sesat” ini saya simak saat dua hari lalu, anak perempuan saya yang duduk di kelas dua sekolah dasar (SD), membacakan kutipan salah satu mata pelajarannya (saya lupa nama mata pelajaran tersebut, tetapi pastinya yang berkaitan dengan soal moral dan budi pekerti). Baca lebih lanjut

Selamat Jalan Pak Ong…!!

Semalam, saat bertemu dengan seorang kawan, ia menyampaikan berita yang cukup mengejutkan, “Pak Ong meninggal!”

Saya memastikan, “Pak Onghokham?” yang dijawabnya iya.

Berita pun kemudian beredar melalui telp dan SMS, tentunya diantara para murid yang pernah diajarnya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Baca lebih lanjut

Romantisme Sejarah atau Demi Kemajuan?

Beberapa hari lalu saya mengklik TEMPO Interaktif, mencari berita tentang sengketa Indivision, ESPN, Star Sport, dan Astro sebenarnya. Masih penasaran dengan hilangnya siaran liga Inggris dari monitor TV di rumah, dan ketemulah berita yang menarik ini, tentang bahasa daerah BIMA, tempat saya lahir di Nusa Tenggara Barat. Judulnya “Diusulkan Pemakaian Kembali Aksara Bima.”

 

Tokoh masyarakat Bima, Siti Maryam Rachmad bermaksud menghidupkan kembali penggunaan aksara Bima dalam bahasa tradisional Bima, Nggahi Mbojo. Ia bermaksud mengusulkan rencana itu kepada pemerintah. Siti adalah putri Sultan Salahudin Bima, bekas Sultan Bima. Siti mengatakan rencana itu telah dibahasnya dengan ahli bahasa Bugis asal Belanda, Dr Nurden, yang menemuinya di Mataram pada 1990. Sang ahli, menurut Siti, menemukan aksara tersebut pada sebuah buku karangan peneliti Belanda bernama Solenger.Aksara Bima menghilang dari penggunaan sehari-hari masyarakat setelah dikenalnya huruf Arab pada zaman penyebaran Islam di Bima. Bentuknya seperti aksara Makassar, tapi tidak sama. Jumlahnya lebih dari 20 huruf. Namun, menurut Siti, masih ada empat huruf pengganti X, Y, dan Z yang belum ditemukan.Yang mengusik pikiran saya adalah untuk apa lagi menghidupkan fosil yang sudah mati? Berguna bagi kepentingan masyarakat umum atau hanya memenuhi kepuasan pribadi saja? Apakah nanti seluruh bacaan yang terbit di Bima ditulis dalam aksara Bima? Apakah waktu belajar anak-anak disekolah akan berkurang lagi dengan mempelajari bahasa dan aksara Bima? Apakah akan berguna bagi kemajuan sang anak dimasa depan. Baca lebih lanjut