Tag Archives: Politik

Lebih Cepat, Apakah lebih Baik?

Semua orang ingin lebih cepat. Mungkin lebih baik, mungkin pula bisa menjadi buruk. Walaupun dipastikan tak ada yang ingin menjadi buruk. Semuanya ingin menjadi lebih baik.

Namun tak jarang lebih cepat bisa berakibat buruk. Pepatah Jawa mengatakan „alon alon asal kelakon“ atau orang tua yang selalu mengingatkan kita untuk hari-hari dan tidak terburu-buru. Mengerjakan ujian tanpa teliti dan terburu-buru mengakibatkan kita cepat selesai namun keliru mengartikan pertanyaan. Dalam mengunyah makanan pun dokter mengajurkan untuk mengambil tempo agar enzim yang ada didalam mulut kita berkerja secara efektif. Terburu-buru, grasa-grusu adalah sifat yang dianggap tidak sopan. Baca lebih lanjut

Kegilaan Pemilu dan Kegilaan Koalisi

Paska pemilihan umum 2009 kita banyak berbicara tentang potensi besar mantan caleg yang mungkin akan terkena stress atau bahkan rawan terkena penyakit kejiwaan. Tensi politik yang tinggi, mimpi yang sudah megawang dan uang yang telah banyak ditebarkan, diduga menjadi beberapa penyebab yang akan menggerogoti jiwa mantan-mantan caleg yang lemah.

Tak ada data yang jelas. Rumah sakit yang konon sudah menyediakan barak khusus bagi mereka pun tak memberikan data statistik yang akurat. Beberapa berita hanya mewartakan ada diantara mereka yang mandi kembang di tepi sumur maupun sumur, menghilangkan ancaman gangguan kejiwaan.

Kini sebaliknya, kita dipusingkan selama dua minggu terakhir dengan berbagai berita soal koalisi capres dan cawapres, yang mungkin bisa membuat kita gila.

Tak kunjung usai, tak kunjung putus, dan tak “kawin-kawin.” Berita tentang koalisi selalu menjadi headline dan breaking news.

Yang lebih gila ada kocokan komposisi yang mereka olah. Tiba-tiba JK merasa lebih pantas menjadi calon presiden daripada harus bersanding lagi dengan SBY sebagai wapres. Ia pun kemudian memilih Wiranto sebagai pasangan. Aneh……karena Wiranto adalah capres yang ditelikungnya pada pemilihan 2004. Golkar pun mengklaim sebagai partai yang pro dengan perubahan dan termasuk pro pada pasar. Terutama JK yang seorang saudagar tentunya amat dekat dengan dunia usaha, yang oleh Wiranto disebut sebagai kapitalis dan pro-Barat. Kok bisa berpasangan.

Megawati pun masih mengocok pasangan. Mencari yang pas. Ia tentunya tak mau hanya menjadi cawapres dari Prabowo. Lain soal jika ia mengajukan Puan sebagai wakil presiden dari PDIP untuk berpasangan dengan Prabowo sebagai Capres. Namun apakah ia mau, dan apakah kader-kader lama PDIP akan menerima pasangan tersebut. Puan yang baru “berkibar” akhir-akhir ini saja.

SBY pun tampaknya “ragu” untuk memilih pasangan yang pas. Berbagai nama bermunculan, mulai dari Hidayat Nur Wahid, Hatta Radjasa, Boediono, Sri Mulyani, Akbar Tadjung, dll. Mungkin SBY sudah memiliki nama, tapi mungkin pula ia masih bingung memilih. Hanya saja “kenekatan” Amien Rais memajukan nama Hatta Radja justru mendorong keretakan kubu PAN. Beberapa kader PAN di parlemen dan DPP yang semula mencap kubu SBY sebagai kubu pro pasar kapitalis barat yang akan berhadapan dengan kubu nasionalis kerakyatan, dimana PAN dianggap lebih pas berada, tentunya kecewa dengan merapatnya Amien ke kubu SBY.

Namun itulah politik, kata sebagian orang.

AKan tetapi politik memiliki etika. Politik memiliki konsistensi visi misi dan ideologi yang harus dijunjung, dan menjadi “jualan” partai kepada konstituen mereka. Akan menjadi lucu dan “gila” jika tiba-tiba, karena berbicara tentang berapa kursi kekuasaan yang akan diperoleh, kemudian menghianati apa yang telah disepakati dan diucapkan, serta menjadi sejarah dari perjalanan partai politik tersebut.

Kita mungkin bisa bertambah gila, segila beberapa partai yang lolos verifikasi, tetapi tidak mencantumkan satupun caleg dalam list pemilihan umum kemarin.

Uang subsidi pemilu sudah mereka dapat.

Kini menjadi gila pula dengan format koalisi, yang menhalalkan partai yang tak lolos threshold untuk bergabung dalam koalisi. Toh mereka tak akan memperoleh kursi di parlemen.

Ah…jangan-jangan, seperti orang Medan mengatakan “Uang yang mengatur dunia ini.”

Syahrir Ternyata Seorang Liberal

Sedang melihat situs baru mengenai pemilu 2009, http://www.politikana.com,  eh…ketemu sebuah kalimat yang berbunyi begini:

“Jangan bicara tentang kebebasan dan kemerdekaan bila hatimu sendiri tidak bebas dan tidak pula merdeka. Kemerdekaan dan kebebasan individu itu merupakan hak asasi manusia. Bisakah engkau menghargai kebebasan dan kemerdekaan manusia lain, sedang hati nuranimu sendiri terbelenggu?”

Kalimat ini menurut penulisnya dikutip dari salah satu surat yang ditulis Syahrir ketika berada dalam pengasingan di Pulau Banda pada 1936-1942.

Buat saya cukup mengejutkan, eh…tokoh yang semula diusung sebagai seorang sosialis, ternyata sangat dan seorang LIBERAL.

Bisa melihat tulisan tersebut ditautan ini:

http://politikana.com/baca/2009/03/13/dari-syahrir-untuk-kita.html

Masih Perlukan Melakukan Reformasi Birokrasi?

Korupsi ibarat rayap, yang secara tekun dan terencana, menggerogoti sendi-sendi penunjang laju pertumbuhan dan perkembangan suatu negara, yaitu birokrasi. Upaya yang dilakukan oleh pemeintah, melalui Komisi Pemberantasan Korupsi, paling tidak mulai menunjukkan hasil. Secara perlahan kasus-kasus dan temuan baru diungkapkan, walau masih menyimpan banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Ada yang mengatakan bahwa maraknya kasus korupsi yang bermunculan menandakan semakin parahnya korupsi di negeri ini. Namun kita pun bisa mengambil sisi positif dari fenomena tersebut. Mungkin tak separah dahulu, alias sama saja, hanya saja dahulu, di masa Soeharto, tak banyak kasus yang terungkap. Baca lebih lanjut

Harga BBM Turun Lagi: Politik atau Bukan?

Politisi Indonesia memang paling pandai berkelit, mencari berbagai alasan mmperkuat argumen. “Komoditi” yang paling laku dipakai adalah BBM, karena konon menyangkut hajat hidup orang banyak.

Karena itu tatkala harga BBM melambung tinggi (menurut Iwan Fals akan membuat ….”susu tak terbeli”), ramai kritik dilontarkan saat pemerintah tak tertahankan harus menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi yang membebani APBN. Tak memperhatikan nasib rakyat katanya. Rakyat haruslah tetap mendapatkan harga BBM murah untuk dibakar habis.

Namun toh saat pemerintah menurunkan harga BBM, karena harga minyak dunia yang turun, kritik yang kembali dilontarkan adalah “komoditi politik.” Mungkin karena tiga kali penurunana yang dilakukan menjelang pemilihan umum. Baca lebih lanjut

Ludwig Erhard

Ludwig Erhard adalah kanselir Jerman pada tahun 1963 – 1966 yang acapkali dihubungkan dengan upaya pemulihan perekonomian Jerman Barat setelah perang dunia.

 

Ia dilahirkan pada 4 Februari1897, di Fürth, sebuah kota di bagian Selatan Bavaria, Jerman. Ia meninggal pada 5 Mei 1977, di Bonn, Jerman.

 

Erhard sempat terjun berperang dalam perang dunia I, pulang dengan membawa luka yang cukup parah, yang  membuatnya memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di bidang ekonomi dan sosiologi, yang ditekuninya hingga meraih doctor pada tahun 1925. Dari tahun 1928 hingga tahun 1942 ia bekerja pada sebuah lembaga yang melakukan survey pasar di Nuremberg, dimana ia kemudian membangun sebuah institusi yang danai oleh industri swasta.

 

Secara intelektual ia memikirkan tentang berbagai konsekuensi yang harus dihadapi oleh Jerman setelah kekalahan perang dunia II. Sejak tahun 1945 ia banyak dipengaruhi oleh Amerika, bekerja sebagai Menteri Ekonomi di Bavaria, dan kemudian di Frankfurt, terutama dalam melakukan reformasi mata uang.

  Baca lebih lanjut

Interview Saya….

Beberapa waktu lalu saya sempat diwawancarai untuk pembuatan tulisan akhir Nadine Freischlad, yang mengambil kuliah di University of the Art Berlin, Jerman. Hasil wawancara tersebut telah dimuat didalam blog miliknya yang dapat diakses pada alamat ini: http://texastee.twoday.net/

Namun mungkin tak ada salahnya isi wawancara tersebut saya muat pula di blog ini..  🙂

 

Part 6 of the interview series: Muhammad Thamrin, the Political Blogger

Thamrin is a historian and journalist, currently works for the Friedrich Naumann Stiftung in Jakarta – a German political foundation associated to the German Liberal Party (FDP) – and as a freelance journalist. He is involved in the Friedrich Naumann Stiftung Project ‘Blogging for Democracy’ – a series of workshops with politicians and NGO workers to introduce them to the world of blogging and podcasting/videocasting. He also writes his own blog called Other stories about freedom and initiated ‘Kedai Kebebasan’.

  Baca lebih lanjut